Hyperloop, Bakal Moda Teknologi Transportasi Super Cepat di Indonesia

Hyperloop, Bakal Moda Teknologi Transportasi Super Cepat di Indonesia

Hyperloop merupakan perusahaan teknologi transportasi dari Amerika Serikat. Mereka berencana membangun suatu moda transportasi baru yang disebut-sebut akan jadi yang tercepat di dunia. Chairman dari Hyperloop, Bibop G. Gresta menyebut bahwa kecepatan Hyperloop tidak main-main yaitu 1300 km per jam. Atau mudahnya, Anda bisa menempuh jarak antara Jakarta ke Surabaya hanya dalam waktu kurang dari 1 jam, tepatnya 56 menit.

Hyperloop, Bakal Moda Teknologi Transportasi Super Cepat di Indonesia

Teknologi transportasi ini memiliki mekanisme yang bisa dikatakan menyerupai kereta. Tetapi setelah disimak lebih jauh, antara Hyperloop dengan kereta ternyata jauh berbeda tak hanya dalam segi kecepatan saja dimana kereta yang tercepat saat ini tercatat memiliki rekor kecepatan 500 kilometer/ jam. Hyperloop tidak memakai rel untuk berjalan melainkan menggunakan suatu tabung untuk membawa gerbong transportasi menyerupai kapsul di bagian dalamnya. Selain itu, Hyperloop juga hanya menggunakan satu kapsul dalam sekali perjalanan, tidak seperti kereta yang membawa banyak gerbong.

Bibop juga menjelaskan bahwa Hyperloop sudah melakukan pembicaraan bersama beberapa partner lokal demi mewujudkan Hyperloop di Indonesia. Bibop sudah melakukan penandatanganan dengan Kementerian Perhubungan dan disaksikan pula oleh Menteri Perhubungan saat itu.

“Kemudian akan dilakukan studi kelayakan yang bisa memakan waktu 3 hingga 6 bulan. Kami sudah menyiapkan dana sebesar USD 1-2,5 juta untuk studi kelayakan ini. Untuk tahap pertama, Tangerang, Bandara (Soeta) menuju pusat kota Jakarta. Lalu dilanjutkan untuk Jawa dengan targetnya sepanjang 2.000 KM. Kemudian pulau Sumatera yang juga dari bandara,” terang Bibop.

Hyperloop disebut tidak memerlukan lahan yang banyak untuk beroperasi. Pembangunannya bisa dilakukan menumpang di jalan tol, maka dari pemerintah cukup memberi izin pengembangan kemudian untuk masalah operasional teknologi transportasi itu bisa diserahkan pada pihak yang berminat seperti halnya pada Kementerian Perhubungan. “Kami tidak butuh lahan tradisional. Kami juga tidak membeli tanah, kami membuatnya (jalur Hyperloop) di atas jalan, di atas tol. Pemerintah cukup memberikan izin guna lahan pengembangan, lalu kami bangun. Lantas itu terserah apakah ini mau pemerintah yang operasikan atau bisa kami bantu juga untuk mengoperasikan,” sambungnya.

Sehubungan dengan dana pembangunan, Bibop menjelaska bahwa teknologi transportasi Hyperloop tidak memerlukan subsidi pemerintah sebab proyek Hyperloop sendiri sudah sangat efisien. Maka dari itu, dana pembangunan cukup mengandalkan dari pihak investor saja. Dwi Putranto Sulaksono selaku Chairman Hyperloop Indonesia juga menerangkan bahwa untuk saat ini sudah ada 3 rute transportasi Hyperloop yang sudah disiapkan pada tahap awal. Rute itu antara lain menghubungkan kabupaten Tangerang dengan Kota Tangerang, Kota Tangerang dengan Bandara Soekarno Hatta, lalu Bandara Soekarno Hatta dengan Halim Perdana Kusuma.

“Semoga tak sampai 5 tahun, ketiga proyek Jakarta ini bisa terwujud. Studi tiap rute memakan biaya setidaknya USD 2,5 juta. Untuk 1 kapsul bisa memuat 40 sampai 60 orang dengan pemberangkatan setiap 3 menit sekali,” kata Dwi menjelaskan tentang teknologi transportasi tersebut.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *