Ilmuwan Inggris Kembangkan Teknologi Terbaru Daur Ulang Plastik

Ilmuwan Inggris Kembangkan Teknologi Terbaru Daur Ulang Plastik

Populasi manusia yang semakin banyak secara langsung berpengaruh terhadap produksi sampah. Utamanya sampah plastik mengingat keseharian manusia sangat erat hubungannya dengan plastik. Maka butuh suatu teknologi terbaru untuk menekan ini.

Ilmuwan Inggris Kembangkan Teknologi Terbaru Daur Ulang Plastik

Mulai dari pembungkus makanan, alat rumah tangga, mainan hingga bahan-bahan untuk kebutuhan sehari-hari, manusia dari anak hingga dewasa memiliki tingkat ketergantungan yang cukup tinggi terhadap material plastik. Hal ini kemudian berdampak pada pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh limbah plastik yang tidak mudah terurai dengan cepat.

Seperti yang diketahui bahwa limbah plastik memang bisa untuk didaur ulang. Namun sayangnya, diperlukan proses yang rumit dengan biaya yang cenderung lebih besar dibanding dengan proses daur ulang untuk material lain. Jika tidak, proses bisa berjalan dalam waktu yang sangat lama. Mencoba mencari solusi lain dari masalah ini, ilmuwan asal Inggris menggagas teknologi terbaru dengan cara menciptakan enzim yang sanggup ‘memakan’ sampah plastik.

Ubergizmo, Selasa (17/4/2018) memuat bahwa ilmuwan di University of Portsmouth, Inggris terinspirasi oleh penemuan bakteri di Jepang tahun 2016 silam. Bakteri tersebut secara alami sanggup berevolusi untuk menggerogoti material plastik yang ada di suatu gundukan limbah. Maka dari itu, ilmuwan tersebut berencana menduplikasikan bakteri itu menjadi suatu enzim yang dapat berevolusi serta dapat bekerja dengan cara yang lebih instan.

Menurut mereka, teknologi terbaru ini dapat bekerja melahap plastik hanya dalam tempo hitungan hari. Dibanding metode konvensional yang memerlukan waktu sangat lama, cara ini nampak sangat menjanjikan. “Kami harap enzim ini dapat merubah material plastik kembali menjadi komponen asli, sehingga kita bisa mendaur ulang dengan lebih cepat. Artinya kita juga tak akan menghabiskan lebih banyak bahan lainnya seperti minyak dalam proses daur ulang,” kata pimpinan tim ilmuwan University of Portsmouth, John McGeehan. Saat ini, enzim tersebut masih dalam tahapan uji coba dan akan segera selesai waktu dekat ini.

Namun demikian, kemajuan ini juga perlu dibarengi dengan perilaku lain agar limbah tidak semakin menumpuk di lingkungan, utamanya sampah elektronik. Saat ini, sampah elektronik menjadi permasalahan utama di berbagai negara dunia dengan pertumbuhan meningkat 5 persen. Asia menjadi wilayah penghasil sampah elektronik paling banyak di dunia dengan pertambahan mencapai 63 persen 2010-2015 seperti yang ditulis Forbes. Sayangnya masih belum ada teknologi terbaru untuk mengolah sampah jenis ini.

Inovasi teknologi terbaru yang semakin pesat tidak menutup kemungkinan terhadap kemampuan untuk mengolah berbagai jeni s sampah. Namun demikian juga harus dibarengi dengan kesadaran manusia akan kondisi lingkungan dengan memilih produk yang menggunakan bahan-bahan organik atau mudah didaur ulang serta perilaku terhadap sampah sebagaimana mestinya. Tentunya kemajuan teknologi yang dibarengi dengan kesadaran tersebut akan membuat lingkungan tinggal menjadi lebih bersahabat.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *