Potensi Pengembangan Printer 3D Sebagai Upaya Kampanye Pemasaran

Potensi Pengembangan Printer 3D Sebagai Upaya Kampanye Pemasaran

Para ahli di beberapa negara telah mampu mengembangkan teknologi printer khusus yang mampu mencetak objek tiga dimensi. Selain membuat sesuatu yang terasa nyata, potensi yang besar juga ditawarkan teknologi ini untuk dikembangkan dalam berbagai bidang lain. Salah satunya dalam bidang bisnis. Saat ini sudah cukup banyak perusahaan yang menggunakan printer 3D untuk mencetak materi promosi hingga membuat media untuk lebih menarik minat konsumen. Berikut ulasan potensi pengembangan printer 3 dimensi dalam upaya kampanye pemasaran.

Potensi Pengembangan Printer 3D Sebagai Upaya Kampanye Pemasaran

Teknologi Mutakhir

Kategori Teknologi printer 3D masih terbatas mengingat baik dalam hal kualitas maupun kuantitasya memang belum terlalu besar. Mungkin tahap perkembangan printer 3 dimensi sudah lebih tinggi di beberapa negara besar seperti Amerika.

Selain lebih mudah dan cepat dalam mencetak objek mini, teknologi ini juga telah dilengkapi beragam material sehingga bisa disesuaikan dengan kebutuhan. Bahkan, di Jepang, terdapat perusahaan teknologi yang khusus mengembangkan printer 3D yang mampu mencetak makanan dalam aneka rupa bentuk.

Di Indonesia sendiri nampaknya printer 3D belum begitu diminati Melihat perkembangan teknologi yang ada serta penerapannya dalam bidang bisnis. Saat ini bisa dibilang Indonesia masih berada di tahap pengenalan teknologi terapan tersebut. Jika dibandingkan beberapa negara tetangga seperti Hongkong dan Singapura, keduanya sudah mulai bisa membuat produk dari printer 3 dimensi untuk kebutuhan marketing usaha.

Permasalahan Biaya

Sulitnya adaptasi teknologi printer 3D Indonesia dikendalai masalah dana. Hingga saat ini, mayoritas harga teknologi printer 3 dimensi cukup tinggi. Tak hanya dari segi mesin, harga dari bahan serta peralatan pendukung lainnya pun tidak murah. Sebagai perbandingan, untuk menciptakan model 3D hanya dengan ukuran sekitar 10 cm, diperlukan biaya mulai dari Rp2,5 juta hingga Rp19 juta. Angka tersebut kemungkinan akan bertambah jika objeknya semakin besar.

Di samping itu, mayoritas printer 3D saat ini menggunakan bahan baku printing (atau dalam printer biasa yakni tintanya) bernama sandstone. Sandstone adalah bahan khusus yang terbuat dari sedimen mineral pasir atau kerikil. Bahan inilah yang secara mandiri masih sulit untuk dikembangkan. Jadi akses bahan ini harus diimpor langsung dari negara besar seperti Amerika.

Harga termurah untuk mesin printernya sendiri di banderol Rp10 juta rupiah hingga Rp150 juta. Namun, untuk printer 3 dimensi profesional memiliki harga yang jauh lebih mahal lagi mencapai ratusan juta.

Jika untuk membuat objek dengan jumlah kecil saja sudah harus mengeluarkan budget yang sangat besar, bisa dibayangkan sedotan dana yang dibutuhkan untuk pembuatan produk secara masal jika dialokasikan dari upaya marketing. Namun, tentunya hal tersebut bisa disesuaikan dari waktu ke waktu. Jika dibandingkan saja, setelah ditemukan sekitar 4 tahun lalu, informasi mengenai penggunaan printer 3 dimensi di Indonesia sudah lebih berkembang. Oleh karena itu, mungkin untuk printer 3D bisa benar-benar awam dijumpai di pasar lokal dibutuhkan waktu yang sedikit lebih lama.

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *