Potensi Sumber Energi Baru yang Diterapkan di Indonesia

Potensi Sumber Energi Baru yang Diterapkan di Indonesia

Istilah EBT atau Energi Baru Terbaharukan saat ini menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat dan pemerintah karena di masa mendatang kebutuhan energy akan semakin meningkat sedangkan pasokan energy akan semakin berkurang. Hal ini membuat para ilmuwan untuk menemukan sumber energi baru demi kelangsungan hidup manusia.

Potensi Sumber Energi Baru yang Diterapkan di Indonesia

Sumber energi baru bisa diartikan sebagai sumber energi yang berasal dari teknologi baru baik energi terbaharukan maupun energi tak terbaharukan seperti nuklir, gas metana, hydrogen, dsb. Berikut ini 3 sumber energi yang bisa menjadi potensi bagi masyarakat Indonesia:

Reactor Daya Eksperimental

Potensi sumber energi baru bisa didapat dari RDE atau Reaktor Daya Eksperimental yaitu reactor nuklir yang difungsikan untuk memproduksi hydrogen, pembangkit panas, dan pembangkit listrik. Sifat eksperimental pada energy ini membuat reactor nuklir tersebut lebih banyak ditujukan untuk percobaan dalam peningkatan penguasaan teknologi.

Di tahun 2014, Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) mengajukan kepada Bappenas untuk pembangunan RDE dengan daya 10 MW dan daya listrik 3-4 MW. Setahun kemudian proyek ini dapat direalisasikan di kawasan Pusat Peneliti Ilmu Pengetahuan dan Teknologi atau Puspiptek Serpong yang letaknya berdekatan dengan Reaktor serbaguna GD Siwabessy yang sudah beroperasi sejak 1987. Meskipun pengembangan sumber energi baru RDE sudah mendapatkan izin, namun banyak pihak yang menolaknya karena dampak negative yang akan dihasilkan.

Batubara Cair

Banyaknya sumber energi batubara di seluruh dunia membuat harganya di pasar internasional mengalami penurunan. Kondisi tersebut memaksa para ilmuwan untuk berinovasi agar nilai jual tetap tinggi. Salah satu cara yang dapat ditempuh yaitu mengubah batubara pada menjadi batubara cair. Batubara cair sudah bisa dikatakan sebagai sumber energi baru karena diproses dengan teknologi terbaru serta memiliki kualitas yang lebih unggul. Di tahun 1983, NEDO (New Energi Development Organization) mampu mengembangkan teknologi pencairan batubara bituminous melalui 3 proses yakni direct hydrogenation to liquefy bituminous coal, solvent extraction system dan solvolysis system.

Gas Metana Batubara

Coalbed Methane (CBM) atau gas metana batubara merupakan gas alami yang didapat dari endapan batubara. Gas ini disebut pula dengan unconventional hydrocarbon karena berada di alam dan sifatnya tidak menyerupai minyak dan gas konvensional pada umumnya. Secara geologis CBM terbentuk langsung di batuan asal sedangkan hidrokarbon konvensional terbentuk di lapisan sedimen.

Menurut Dirjen Kementrian ESDM menyatakan bahwa Indonesia memiliki 453 triliun kubic feet potensi CBM yang dapat dimanfaatkan yakni tersebar di wilayah Sumatra, Sumatra Selatan, Ombilin, Bengkulu, Jatibarang, Tarakan Utara, Berau, Kutai, Barito, Pasir, dan Sulawesi. Sumber energy ini sangat berpotensi menjadi sumber energi baru untuk kebutuhan masyarakat Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan langkah pemerintah dalam memproduksi MMSCFDCBM namun masih terganjal lahan yang sempit dan sulitnya perizinan.

 

Be Sociable, Share!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *